Menanti Prestasi Perbankan Indonesia di Kancah Internasional

Tingginya ketergantungan perbankan nasional terhadap kupon obligasi mengindikasikan kalau perbankan nasional belum sepenuhnya pulih. Meski sudah ada perbaikan, namun perbankan nasional tetap harus tetap prudent. demikian kata Ketua Perhimpunan Bank-bank Umum Nasional Agus Martowardojo.

“Melihat kondisi perbankan sekarang sebenarnya masih belum sepenuhnya pulih,” kata Agus yang juga direktur utama Bank Permata di Jakarta, Selasa (30/11). Menurut dia, meski secara struktural dan finansial terlihat perbankan nasional mengalami perubahan yang cukup signifikan namun sejumlah masalah masih menghadang perkembangan perbankan nasional.

perbankan nasional

Dia mengatakan, sisi permodalan mengalami peningkatan yang sangat baik dari negatif 50 persen di pertengahan 1999 menjadi rata-rata sekitar 21 persen di Triwulan III tahun 2004. Sementara dari sisi rasio kredit bermasalah terhadap total kredit berhasil ditekan dari 18 persen di akhir tahun 2000 menjadi 7,1 persen pada Triwulan III 2004.

Namun, katanya, sejumlah kendala masih menghadang, antara lain tingginya ketergantungan perbankan dari penerimaan kupon obligasi rekap yang hingga Agustus 2004 hampir 32,52 persen aktiva produktif perbankan masih didominasi oleh obligasi rekap.

Selain itu, lanjutnya, pertumbuhan dana di perbankan yang hanya mencapai 10 persen per tahun secara implisit mencerminkan bahwa sebagian kredit didanai oleh konversi obligasi rekap. “Dengan kata lain, risk profile bank makin meningkat yang bisa mengakibatkan rasio kecukupan modal akan terpengaruh,” katanya.

Agus juga mengatakan, perbankan harus berusaha untuk meningkatkan pencairan kredit ke sektor riil dengan lebih berani menurunkan suku bunga kredit. Menurut Agus, data persetujuan pinjaman pada tahun berjalan menunjukkan angka rata-rata pencairan hanya 27-30 persen.

Rendahnya jumlah pencairan kredit yang telah disetujui, katanya, apabila terus berlanjut dikhawatirkan akan menimbulkan beban biaya dana non-produktif sehingga mengakibatkan tingkat bunga kredit akan semakin tinggi dan tertahan untuk turun.

Agus mengatakan, di sisi pendanaan sektor perbankan masih didominasi oleh dana-dana mahal dan berorientasi jangka pendek yang bisa mengakibatkan pada potensi perbedaan jangka waktu pendanaan.